Masjid NURUL ANWAR

Maju Bersama Dalam Ilmu dan Amal

Memaknai Kebahagiaan Duniawi



Dalam mengarungi kehidupan di dunia, sikap manusia bermacam-macam adanya. Ada manusia yang benar-benar mencintai dunia sehingga seluruh waktunya dihabiskan untuk mencari dunia, dari pagi hingga malam, tiada siang atau malam hanya digunakan untuk mencari bekal kehidupan dunia, baik berupa harta benda, wanita atau kedudukan, dengan menghalalkan segala macam cara. Tetapi sebaliknya, ada juga manusia yang tidak mau mencari kehidupan dunia; dia mengasingkan diri untuk menjauhkan kehidupan dan keramaian dunia ini, sebab menurutnya kehidupan dunia ini hanya akan mendatangkan kerugian baginya kelak di akhirat.

Lalu bagaimanakah seharusnya sikap seorang muslim dalam menghadapi kehidupan dunia ini? Apakah mengikuti kelompok pertama yang berusaha sekuat tenaga dan mencurahkan seluruh waktunya untuk kehidupan dunia? Ataukah mengikuti kelompok kedua yang hanya berfokus pada kehidupan akhirat dan mengabaikan kehidupan dunia ini? Untuk menjawab pertanyaan diatas, marilah kita simak firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 77:


Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.

Dalam ayat diatas Allah secara tegas menyatakan bahwa manusia hendaknya mengejar dan mencari bekal untuk kita bawa kembali ke kehidupan akhirat, namun jangan sampai pula melupakan bekal hidup kita di dunia ini. Bekal akhirat harus kita cari sebab kesanalah tujuan akhir kita hidup di dunia ini. Bekal hidup di duniapun perlu dicari, sebab sekarang ini kita sedang hidup diatasnya. Tidak dipandang baik oleh Islam, apabila manusia meninggalkan kehidupan dunia karena mengejar bekal akhirat, demikian juga sangatlah tidak baik, bila kita melupakan tabungan akhirat kita hanya karena mengejar kehidupan dunia yang sementara ini.

Hadirin rahimakumullah…

Al-Qur’an telah menegaskan bahwa salah satu fitrah manusia adalah mencintai dunia. Firman Allah:


Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali-Imran: 14)

Pada ayat diatas Allah menegaskan bahwa manusia ditakdirkan untuk memperoleh perhiasan dunia berupa kesenangan, kasih sayang dan mencintai harta benda miliknya. Itulah fitrah manusia yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Bila dikaji, maka pada dasarnya ada tiga hal yang dicintai oleh manusia, yaitu lawan jenis, anak dan harta benda.

Seorang laki-laki normal tentu akan mencintai wanita, dan begitu juga sebaliknya seorang wanita normal tentu akan mencintai laki-laki. Dan sudah kita pahami bersama bahwa jalan satu-satunya yang diridhoi Allah untuk mempersatukan kasih sayang antara sepasang hamba Allah adalah melalui pernikahan yang diatur dengan hukum syara’ yang benar. Namun ada juga sebagian manusia yang menempuh jalan yang tidak dibenarkan oleh syariat Islam. Di Negara-negara modern atau bahkan dalam masyarakat kita yang ‘katanya’ berpikiran modern banyak ditemukan sepasang laki-laki dan perempuan yang hidup serumah layaknya sepasang suami-istri. Di berbagai tempat juga terjadi pernikahan yang tidak disertai dengan niat yang tulus ikhlas mengharap ridho Allah SWT. Pernikahan yang khotib maksudkan adalah ‘kawin kontrak’, yaitu pernikahan yang dilakukan karena alasan-alasan tertentu, dalam jangka waktu tertentu, juga nilai kontrak tertentu. Pernikahan semacam ini hukumnya adalah haram dan pelakunya di hukum berzina. Pernikahan yang sejati adalah pernikahan yang dilandaskan niat yang tulus ikhlas lillahi ta’ala dan diharapkan pernikahan tersebut langgeng untuk selama-lamanya, bukan untuk waktu satu bulan, tiga bulan atau satu tahun saja.

Kemudian rasa cinta manusia terhadap dunia ini juga terwujud dalam rasa cinta orang tua terhadap anak-anaknya.

Hadirin rahimakumullah…

Orang tua mana yang tidak sayang kepada anak-anaknya. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya bahagia diatas dunia ini. Orang tua mana yang tidak ingin anak-anaknya meraih kesuksesan dalam hidupnya. Orang tua mana yang tidak ingin kebahagian, kesuksesan dan kejayaan yang dimilikinya menurun kepada anak-anaknya. Hal ini tentu bias kita maklumi sebagai ungkapan rasa cinta, kasih dan sayang orang tua kepada anak-anaknya.

Namun hadirin, kita jangan lupa bahwa mencintai anak pun ada batas dan aturannya. Islam telah menggariskan bahwa kecintaan kita kepada anak maupun istri tidak boleh melebihi kecintaan kita kepada Rabb kita yaitu Allah SWT. Bahkan sebaliknya, kecintaan kita kepada anak harus menjadi pendoroang bagi kita untuk mendidik mereka menjadi anak-anak yang soleh dan soleha.

Mencintai anak haruslah tetap dijaga takarannya agar jangan sampai kecintaan yang berlebihan bahkan tanpa batas kepada anak-anak akan menyebabkan runtuhnya martabat orang tua akibat segala macam perbuatan mereka yang melanggar hukum agama, masyarakat dan Negara. Tentu patut kita camkan bersama bahwa sekarang ini berbagai pelanggaran moral terjadi, tindak kriminalitas merajalela, penyalahgunaan narkotika meningkat dan lain sebagainya yang melibatkan remaja semakin marak terjadi.

Untuk itu setiap orang tua harus memperhatikan aspek pendidikan anak, lebih-lebih pendidikan agama untuk mereka. Jangan sampai gara-gara terlalu sayang terhadap mereka kemudian kita menutup mata, tidak mau tahu, acuh tak acuh terhadap berbagai tindak pelanggaran yang mereka lakukan.

Hadirin rahimakumullah…

Hiasan hidup ketiga yang menjadi dambaan tiap insan adalah harta benda. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa banyak orang ingin memiliki harta benda yang menumpuk, bahkan tidak sedikit yang berpendirian bahwa kebahagiaan hidup hanya dapat digapai dengan memiliki harta kekayaan yang melimpah. Padahal sebaliknya, kita sering menyaksikan betapa banyak orang kaya, punya harta yang melimpah tetapi justru tidak bisa menikmati harta kekayaannya itu dengan berbagai macam alasan. Sebagian karena mereka menderita penyakit yang sangat serius, sebagian lagi karena mereka terbelit masalah hukum yang mempertanyakan kehalalan harta mereka, dan sebagian lagi karena mereka terjangkit penyakit hati, yaitu kikir atau bakhil sehingga mereka sangat takut untuk membelanjakan harta mereka, apalagi untuk berinfaq dan bershodaqoh. Na’udzubillahi min dzalik.

Hadirin rahimakumullah,

Memang segala kebahagiaan dunia ini merupakan hak asasi kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Kita boleh mencintai lawan jenis kita, kita juga diizinkan menyayangi anak-anak kita, kita pun dianjurkan mencari rizki yang telah Allah sediakan untuk kita, namun kita juga tidak boleh melupakan esensi atau pokok tujuan penciptaan manusia, yaitu untuk mengabdi, beribadah kepada Allah SWT. Sebagaimana telah Allah tegaskan dalam firman-Nya:


Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepada-Ku. (Az-Zaariyat: 56)

Untuk itu hadirin, kita harus ingat bahwa harta benda yang ada pada kita, jabatan yang sedang kita sandang dan istri serta anak yang kita miliki merupakan titipan Allah yang sifatnya sementara. Dengan demikian, kecintaan kita kepada mereka tidak akan melebihi kecintaan kita kepada Allah. Dan bila kita mencintai Allah lebih dari yang lain-lainnya, maka sudah pasti kita akan menjadi insan yang lebih taat kepada-Nya. Dengan sendirinya, ketaatan kita kepada Allah SWT akan membawa kita kepada kebahagiaan yang lebih hakiki, yaitu kebahagiaan di alam akhirat.

Sebagai penutup, khotib mengajak kita semua, khususnya diri pribadi khotib untuk bisa menyikapi dengan bijaksana segala karunia yang telah Allah limpahkan kepada kita, baik berupa harta, kedudukan, maupun keluarga. Marilah kita jadikan semuanya sebagai ladang amal, agar kita mendapatkan berkahnya kelak di hari pembalasan. Mudah-mudahan timbangan amal kebaikan kita lebih berat dibandingkan dosa-dosa yang kita perbuat.

Barakallahu li walakum. Walisa iril muslimina wal muslimat. Wal mu’mininawal mu’minat. Fastaghfiruhu innahu huwal ghafurur Rahim.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: